1) Menurut publikasi BPS pada bulan Agustus 2010, jumlah penduduk Indonesia berdasarkan hasil sensus ini adalah sebanyak 237.556.363 orang, yang terdiri dari 119.507.580 laki-laki dan 118.048.783 perempuan.
Laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,49 persen per tahun.
Laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,49 persen per tahun.
Distribusi penduduk Indonesia:
Daerah | Persentase |
Pulau Jawa | 58% |
Pulau Sumatra | 21% |
Pulau Sulawesi | 7% |
Pulau Kalimantan | 6% |
Bali dan Nusa Tenggara | 6% |
Papua dan Maluku | 3% |
Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah adalah tiga provinsi dengan urutan teratas yang berpenduduk terbanyak, yaitu masing-masing berjumlah 43.021.826 orang, 37.476.011 orang, dan 32.380.687 orang. Sedangkan Provinsi Sumatera Utara merupakan wilayah yang terbanyak penduduknya di luar Pulau Jawa, yaitu sebanyak 12.985.075 orang.
Rata-rata tingkat kepadatan penduduk Indonesia adalah sebesar 124 orang per km². Provinsi yang paling tinggi kepadatan penduduknya adalah Provinsi DKI Jakarta, yaitu sebesar 14.440 orang per km². Provinsi yang paling rendah tingkat kepadatan penduduknya adalah Provinsi Papua Barat, yaitu sebesar 8 orang per km².
Rata-rata tingkat kepadatan penduduk Indonesia adalah sebesar 124 orang per km². Provinsi yang paling tinggi kepadatan penduduknya adalah Provinsi DKI Jakarta, yaitu sebesar 14.440 orang per km². Provinsi yang paling rendah tingkat kepadatan penduduknya adalah Provinsi Papua Barat, yaitu sebesar 8 orang per km².
Jumlah Perokok di Indonesia
Perokok dari Kalangan Anak-anak dan Remaja
*Pria = 24.1% anak/remaja pria
*Wanita = 4.0% anak/remaja wanita
*Atau 13.5% anak/remaja Indonesia
Perokok dari Kalangan Dewasa
Pria = 63% pria dewasa
Wanita = 4.5% wanita dewasa
atau = 34 % perokok dewasa
2) Alasan Mengapa Remaja Merokok ?
1.Pengaruh 0rangtua
Anak-anak muda yang berasal dari rumah tangga yang tidak bahagia, dimana orang tua tidak begitu memperhatikan anak-anaknya dan memberikan hukuman fisik yang keras lebih mudah untuk menjadi perokok dibanding anak-anak muda yang berasal dari lingkungan rumah tangga yang bahagia. Remaja yang berasal dari keluarga konservatif yang menekankan nilai-nilai sosial dan agama dengan baik dengan tujuan jangka panjang lebih sulit untuk terlibat dengan rokok/tembakau/obat-obatan dibandingkan dengan keluarga yang permisif dengan penekanan pada falsafah “kerjakan urusanmu sendiri-sendiri", dan yang paling kuat pengaruhnya adalah bila orang tua sendiri menjadi figur.
Anak-anak muda yang berasal dari rumah tangga yang tidak bahagia, dimana orang tua tidak begitu memperhatikan anak-anaknya dan memberikan hukuman fisik yang keras lebih mudah untuk menjadi perokok dibanding anak-anak muda yang berasal dari lingkungan rumah tangga yang bahagia. Remaja yang berasal dari keluarga konservatif yang menekankan nilai-nilai sosial dan agama dengan baik dengan tujuan jangka panjang lebih sulit untuk terlibat dengan rokok/tembakau/obat-obatan dibandingkan dengan keluarga yang permisif dengan penekanan pada falsafah “kerjakan urusanmu sendiri-sendiri", dan yang paling kuat pengaruhnya adalah bila orang tua sendiri menjadi figur.
2. Pengaruh teman.
fakta mengungkapkan bahwa semakin banyak remaja merokok maka semakin besar kemungkinan teman-temannya adalah perokok juga dan demikian sebaliknya. Dari fakta tersebut ada dua kemungkinan yang terjadi, pertama remaja tadi terpengaruh oleh teman-temannya atau bahkan teman-teman remaja tersebut dipengaruhi oleh diri remaja tersebut yang akhirnya mereka semua menjadi perokok.
3. Faktor Kepribadian.
Orang mencoba untuk merokok karena alasan ingin tahu atau ingin melepaskan diri dari rasa sakit fisik atau jiwa, membebaskan diri dari kebosanan. Namun satu sifat kepribadian yang bersifat prediktif pada pengguna obat-obatan (termasuk rokok) ialah konformitas sosial. Orang yang memiliki skor tinggi pada berbagai tes konformitas sosial lebih mudah menjadi pengguna dibandingkan dengan mereka yang memiliki skor yang rendah
4. Pengaruh Iklan.
Melihat iklan di media massa dan elektronik yang menampilkan gambaran bahwa perokok adalah lambang kejantanan atau glamour, membuat remaja seringkali terpicu untuk mengikuti perilaku seperti yang ada dalam iklan tersebut.
5. Dengan Merokok bisa terlihat macho/sexy
Tepatnya… pabrik rokok mengharapkan anda berpikir seperti itu. Mungkin awalnya memang iya, tapi tunggu saja… Merokok dapat menimbulkan kulit keriput dan gigi kuning. Merokok juga berkontribusi pada osteoporosis atau pengeroposan tulang. Kalau sudah begitu, tubuh tidak lagi tegap. Dan yang lebih penting, merokok dapat menyebabkan impotensi. Apa itu yang namanya macho/sexy?
3) Bahaya Akibat Merokok
Rokok termasuk zat aditif yang bias membuat konsumennya ketagihan. Rokok memiliki banyak sekali zat kimia yang berbahaya. Zat-zat tersebut dapat merusak sistem kerja organ tubuh atau juga bisa menonaktifkan organ tubuh. Zat Nikotin yang terkandung dalam rokok membuat sang pengguna menjadi ketagihan. Tidak hanya dalam sisi kesehatan dalam sisi ekonomi juga banyak sekali kerugian dari rokok. Misalnya, seorang tukang odong-odong yang hobi ngerokok berpenghasilan 70.000 perhari, ia harus menyetor ke majikannya 50.000, lalu uang sisa tersebut dibelikannya rokok seharga 10.000 dan sisa dari uang tersebut untuk makan dia, istri, dan dua orang anaknya, apakah duit yang tersisa itu cukup untuk kebutuhan gizi mereka ?. Tidak sama sekali. Merokok itu adalah perbuatan dosa karena menyiksa diri sendiri dengan menghirup 4000 bahan kimia yang berbahaya bagi tubuh, itu sama saja dengan bunuh diri secara perlahan-lahan, dan itusangan dilarang oleh Allah SWT. Jadi dapat ditarik kesimpulan merokok itu sangat merugikan tidak ada untungnya dan merokok tidak hanya merugikan diri kita sendiri tapi juga orang lain. Bila ada orang yang menawarkan rokok tolaklah dengan halus, jangan dengarkan apa kata mereka, pertahankan pendapat kita, karena merokok itu tidak ada untungnya sama sekali.
4) Fatwa/Dalil Tentang Hukum Merokok
Ditanyakan kepada Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, 'Apa hukum mengisap rokok berikut dalilnya dari Al-Qur'an dan Al-Hadits?’
Jawab:Rokok adalah haram.
Dalilnya adalah firman Allah:
"Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri.
Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepada mu."
(An-Nisa: 29)
"Dan janganlah kamu menjerumuskan dirimu sendiri dalam
kebinasaan." (Al-Baqarah: 195)
"Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang
belum sempurna akalnya harta (mereka yang ada dalam
kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok
kehidupan."
(An-Nisa: 5)
Lalu Allah dalam banyak ayatNya melarang kita berlaku
boros. Dan, tak diragukan lagi membeli rokok adalah
pemborosan dan sekaligus perusakan kesehatan,sehingga
termasuk hal yang dilarang. Dalam Sunnah Rasulullah
saw melarang membuang-buang harta. Dan tentu
membelanjakan wang untuk rokok adalah membuang uang.
Rasulullah saw bersabda, "Tidak boleh mendatangkan
bahaya dan membalasnya dengan bahaya." Dan semua tahu,
merokok sangat membahayakan. Di samping itu, jika
telah kecanduan rokok, seseorang akan sakit dan sesak
dadanya jika tak mendapatkannya. Padahal itu sama
dengan memaksakan untuk dirinya sesuatu yang tidak ia
perlukan.
Jawab:Rokok adalah haram.
Dalilnya adalah firman Allah:
"Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri.
Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepada mu."
(An-Nisa: 29)
"Dan janganlah kamu menjerumuskan dirimu sendiri dalam
kebinasaan." (Al-Baqarah: 195)
"Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang
belum sempurna akalnya harta (mereka yang ada dalam
kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok
kehidupan."
(An-Nisa: 5)
Lalu Allah dalam banyak ayatNya melarang kita berlaku
boros. Dan, tak diragukan lagi membeli rokok adalah
pemborosan dan sekaligus perusakan kesehatan,sehingga
termasuk hal yang dilarang. Dalam Sunnah Rasulullah
saw melarang membuang-buang harta. Dan tentu
membelanjakan wang untuk rokok adalah membuang uang.
Rasulullah saw bersabda, "Tidak boleh mendatangkan
bahaya dan membalasnya dengan bahaya." Dan semua tahu,
merokok sangat membahayakan. Di samping itu, jika
telah kecanduan rokok, seseorang akan sakit dan sesak
dadanya jika tak mendapatkannya. Padahal itu sama
dengan memaksakan untuk dirinya sesuatu yang tidak ia
perlukan.